BE VEG GO GREEN
PEACE ON EARTH,
SAVE THE PLANET
Kring...Kring...alunan suara bel atawa klakson seperti itu mungkin saja sudah jarang kita dengar di jalan-jalan, apalagi di kota besar seperti Jakarta ini. Kalau terdengar pun tidai jarantg kita tertawa, tapi seorang Bapak yang Batavia News temui pagi itu sungguh gagah menaiki sepeda ontel berwarna merah sambil memutari jalan di tengah padatnya kendaraan bermotor yang ada disekelilingnya.
Kelihatan sekali badannya yang sehat dan raut wajahnya yang ceria, psti ia sangat menjaga pola hidup dan kesehatan yang ada pada dirinya, hingga pada suatu kesempatanku sang Bapak yang bernama Edy Budihardjo yang tak lain Ketua Umum Komunitae Sepeda Ontel Jakarta Selatan (OJS) mengvajak Batavia News untuk melihat koleksi sepeda ontel yang ia miliki dikediamannya dan bercerita sedikit tentang komunitas miliknya yang pengikutnya mulai dari masyarakat biasa, Lurah, Camat sampai para petinggi di pemerintahan.
Dulu sebelum komunitas ini dibuat, awalnya beranjak dari rasa prihatin saya akan kondisi bumi kita yang semangkin hari semakin parah kerusakannya. Karenanya saya berusaha berbuat sesuatu untuk menyelamatkan bumi dan dari situlah komunitas sepeda ontel berdiri. Terasa sulit memang, karena tegnologi semakin maju, maka pola pikir seseorang juga semakin moderen sehingga susah untuk diajak kembali menghargai sejarah atau memakai barang-barang tempo doeloe yang sebenarnya lebih aman untuk digunakan. Namun karena benar-benar ingin merubah dan menyadarkan masyarakat akan penghematan bahan bakar, untuk mengurangi polusi, dan sebagainya. Saya tetap tidak menyerah dan optimis, apa yang saya lakukan sedikit banyaknya pasti akan berguna bagi bumi tercinta ini, lewat komunitas yang mengusung motto " Be Veg Go Green, Peace On Earth, Safe The Planet" inilah saya berbuat, " tutur Edy dengan penuh keyakinan.
Edy sebagai Ketua Umum Ontel Jakarta Selatan (OJS) mengaku memang butuh waktu yang lama untuk menyadarkan orang lain untuk lebih peka dan menjaga alam ini. Tetapi kini terbukti bahwa komunitas ini mampu berkembang dan dan tak bisa dianggap sebelah mata. Melalui Batavia News ia mengajak segenap masyarakat untuk melakukan sekecil apapun perbuatah untuk menyelamatkan bumi ini agar anak cucu kita nanti masih bisa menikmati indahnya alam ini.
"Khususnya bagi segenap generasi muda patutlah menyemangati diri untuk membuat perubahan, melindungi, dan menjaga alam ini dengan sebaik-baiknya. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak dimulai dari sekarang kapan lagi?" imbuh Edy Budihardjo menutupi obrolannya dengan Batavia Newe.
Sunny Octavina
Ontel oh ontel...
Sejarah Sepeda Lawas
Rata-rata sepeda lawas keluaran pabrikan Eropa. Angka tahunnya antara 1940 sampai 1950 an. Dimasyarakat kita sepeda lawas itu dikenal dengan beberapa sebutan, seperti ontel, jengkik kumbang dan sundung. Kalau jengki itukan asalnya dari kata jingke (bahasa Betawi artinya berjinjit). Jadi waktu naiknya kita harus berjingke saking tingginya. Kalau ontel ya artinya diontel atau dikayuh.
Sejarah sepeda lawas bermula di Eropa. Sekitar tahun 1790, sebuah sepeda pertama berhasil dibuat di Inggris. Cikal bakal sepeda ini diberi nama Hobby Horses dan Celerife-res. Keduanya belum punya mekanisme sepeda zaman sekarang, batang kemudi dan sistem pedal. Yang ada hanya dua roda pada sebuah rangka kayu. Bisa dibayangkan betapa canggung dan besar tampilan kedua sepsda tadi. Meski begitu, mereka cukup menolong orang-orang pada masa itu untui berjalan. Penemuan fenomenal dalam kisah masa lalu sepeda tercipta berkat Baron Karl Von Drais.
Von Drais yang tercatat sebagai mahasiswa matematik dan mekanik di Heidelberg, Jerman, berhasil melakukah terobosan penting, yang ternyata merupakan peletek dasar perkembangan sepeda selanjutnya. Oleh Von Drais, Hobby Horse dimodifikasi hingga mempunyai mekanisme kemudi pada bagian roda depan. Dengan mengambil tenaga gerak dari kedua kaki. Von Drais meluncur lebih cepat asal berkeliling kebun. Ia sendiri menyebut kendaraan ini dengan nama Draislenne. Beritanya sendiri dimuat di koran lokal Jerman pada tahun 1817.
Proses penciptaan selanjutnya dilakukan Kirkpatrick Macmillan pada tahun 1839. Ia menambahkan batang penggerak yang menghubungkan antara roda belakang dengan ban depan Draislenne. Untuk menjalankannya tinggal mengayuh pedal yang ada. James Starley mulai membangun sepeda di Inggris pada tahun 1870. Ia memproduksi sepeda dengan roda depan yangsangat besar (high wheel bicycle) sedang roda belakangnya sangat kecil. Jenis ini sangat populer di seluruh Eropa. Sebab Starley berhasil membuat terobosan dengan mencipta roda berjari-jari dan metode cross tangent. Sampai kini, kedua tehnologi itu masih terus dipakai. Buntutnya, sepeda menjadi lebih ringan untuk dikayuh.
Sayangnya, sepeda dengan roda yang besar itu memiliki banyak kekurangan. Ini menjadi dilema bagi orang-orang yang berperawakan mungil dan wanita. Karna posisi pedal dan jok yang cukup tinggi, mereka mengeluhkan kesulitan untuk mengendarainya. Sampai akhirnya keponakan James Starley, John Kemp Starley menemukan solusinya. Ia menciptakan sepeda yang lebih aman untuk dikendarai oleh siapa saja pada tahun 1886. Sepeda ini sudah punya rantai untuk menggerakkan roda belakang dan ukuran kedua rodanya sama.
Namun penemuan tak kalah penting dilakukan John Boyd Dunlop pada tahun 1888. Dunlop berhasil menemukan tehnologi ban sepefa yang bisa diisi dengan angin (pneumatic tire). Dari sinilah, awal kemajuan sepeda yang pesat.
Beragam bentuk sepeda berhasil diciptakan. Seperti diketahui kemudian, sepeda menjadi kendaraan yang mengasyikkan.
Di Indonesia, perkembangan sepeda banyak dipengaruhi oleh penjajah, terutama Belanda. Mereka memboyong sepeda produksi negerinya untuk dipakai berkeliling menikmati segarnya alam Indonesia. Kebiasaan itu menular pada kaum pribumi berdarah biru. Akhirnya, sepeda jadi alat transpor yang bergengsi.
Pada masa berikutnya, saat peran sepeda makin terdesak oleh beragam teknologi yang disandang kendaraan bermesin (mobil dan motor), sebagian orang mulai tertarik untuk melestarikan sejarah lewat koleksi sepeda antik. Rata-rata, sepeda lawas mereka keluaran pabrikan Eropa. Angka tahunnya antara tahun 1940 sampai tahun 1950-an.
Dan mereka sangat cermat dalam merawatnya. Dimasyarakat kita, sepeda lawas itu dikenal dengan beberapa sebutan, seperti ontel, jengki, kumbang, dan sundung. Kalau jengki itu kan asalnya dari kata jingke (bahasa Betawi artinya berjinjit), jadi waktu naiknya kita harus berjingke saking tingginya. Kalau ontel, ya artinya diontel atau dikayuh.
Sunny Octavia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar